Tutup Lokakarya Ekoteologi, Stafsus Menag Dorong PTKN Implementasikan Ekoteologi melalui Green Campus dan Digitalisasi Akademik

Bagikan artikel ini:
Tutup Lokakarya Ekoteologi, Stafsus Menag Dorong PTKN Implementasikan Ekoteologi melalui Green Campus dan Digitalisasi Akademik
Berita

Staf Khusus Menteri Agama bidang pendidikan, organisasi kemasyarakatan (ormas), dan moderasi beragama Farid F Saenong menutup Lokakarya Penguatan Ekoteologi yang diselenggarakan Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama bersama Kelompok Kerja Penguatan Ekoteologi dan Forum Kepala Biro serta Kepala Bagian Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) di Hotel Grand Savero Bogor.

Bogor (Pusbangkom MKMB)---Staf Khusus Menteri Agama bidang pendidikan, organisasi kemasyarakatan (ormas), dan moderasi beragama Farid F Saenong menutup Lokakarya Penguatan Ekoteologi yang diselenggarakan Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama bersama Kelompok Kerja Penguatan Ekoteologi dan Forum Kepala Biro serta Kepala Bagian Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) di Hotel Grand Savero Bogor.

Dalam arahannya, Farid menegaskan bahwa penguatan ekoteologi menjadi bagian penting dari kontribusi Kementerian Agama dalam menjawab tantangan global, khususnya isu perubahan iklim dan perdamaian dunia. “PTKN tidak lagi cukup berpikir pada lingkup lokal dan nasional, tetapi juga dituntut berkontribusi secara global,” ujar Farid secara daring, Rabu malam, (20/5/2026).

Menurutnya, Indonesia memiliki pengalaman terbaik dalam mengelola keberagaman dan itu menjadi modal penting untuk berkontribusi pada peradaban dunia. Karena itu, PTKN harus menjadi bagian dari agen perdamaian global.

“Penguatan ekoteologi merupakan implementasi dari gagasan besar Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menempatkan isu lingkungan sebagai bagian integral dari nilai-nilai keagamaan,” jelasnya.

Konsep tersebut, kata Farid, telah lama dikembangkan melalui berbagai program di Masjid Istiqlal dan kini diperluas secara masif di lingkungan Kementerian Agama.

“Sejumlah langkah konkret yang telah dilakukan dalam mendukung gerakan ekoteologi, antara lain program penanaman satu juta pohon matoa, gerakan Green Campus, pengurangan penggunaan kertas, hingga pemanfaatan energi ramah lingkungan di lingkungan kampus dan rumah ibadah,” paparnya mencontohkan.

Dalam kesempatan ini, beliau mengapresiasi sejumlah PTKN yang mulai menerapkan kebijakan ramah lingkungan, termasuk penggunaan dokumen digital untuk pengumpulan tugas akhir mahasiswa. “Kebijakan tersebut dinilai dapat mengurangi penggunaan kertas secara signifikan sekaligus mendukung pelestarian lingkungan,” imbuhnya.

Menurut stafsus Farid, Kalau gerakan seperti ini dilakukan secara nasional di seluruh PTKN, dampaknya akan sangat besar bagi upaya penyelamatan lingkungan.

“Yang terpenting adalah bagaimana semangat ekoteologi dapat diwujudkan melalui program-program konkret dan menjadi budaya bersama di kampus-kampus PTKN,” tegasnya.

Farid juga mendorong kampus-kampus PTKN untuk mulai memikirkan penggunaan energi terbarukan, pengelolaan sampah berbasis teknologi, serta membangun budaya hidup ramah lingkungan di lingkungan akademik.

“Isu ekoteologi bukan hanya sebatas konsep, tetapi harus diterjemahkan dalam bentuk program nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,” tandasnya di hadapan para kepala biro serta kepala bagian PTKN dari berbagai wilayah di Indonesia yang sangat antusias mengikuti Lokakarya Penguatan Ekoteologi dari pembukaan sampai penutupan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan implementasi program prioritas Kementerian Agama dalam membangun kesadaran kolektif tentang hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

Hadir juga pada penutupan kegiatan ini, Sekretaris BMBPSDM Wawan Djunaedi dan Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB) Musyarrafah Amin. /RS

 

 

Tags:

Penulis
RAHMI SIREGAR, S.Sos.
RAHMI SIREGAR, S.Sos.
Pranata Humas Ahli Muda

Related Posts: