“Setiap zaman melahirkan raksasanya sendiri.” Begitulah kiranya pesan abadi yang terpantul dari kisah Mahabharata. Dalam epos besar itu, Krisna digambarkan memiliki kemampuan triwikrama: menjelma menjadi raksasa raksasa berwujud perkasa, menggetarkan kawan maupun lawan. Arjuna Sasrabahu, titisannya, pun mampu melipatgandakan diri menjadi seribu sosok hanya dalam tiga langkah. Sebuah lompatan wujud yang dahsyat, melampaui logika manusia biasa.
Triwikrama bukan sekadar adegan dramatis dalam pewayangan. Ia adalah simbol tentang daya transformatif: bagaimana manusia mampu menjelma melampaui dirinya ketika dikepung oleh keadaan. Dalam konteks filsafat Jawa, triwikrama adalah kemampuan menyatukan tiga kekuatan dasar: cipta, rasa, dan karsa. Pikiran yang jernih, perasaan yang tulus, dan tindakan yang tegas. Jika ketiganya berpadu, lahirlah kekuatan yang melampaui ukuran fisik.
Kekuatan itu, kata para pujangga, bukan sekadar soal tenaga. Ia menjelma menjadi manfaat. Sebuah ide yang lahir dari cipta, lalu dirajut rasa, dan diwujudkan dalam karsa, bisa berubah menjadi karya yang bertahan lintas generasi. Inilah sejatinya triwikrama: transformasi manusia yang bukan hanya membesarkan diri, melainkan juga menebarkan pengaruh dan kebermanfaatan.
Kisah Krisna selalu penuh simbol. Dalam Bharatayudha, perang besar antara Pandawa dan Kurawa, kedua pihak berebut kehadiran Krisna. Kurawa mengerti, kemenangan tidak ditentukan oleh pasukan terbanyak atau senjata terkuat. Selama ada Krisna di pihak Pandawa, peluang kemenangan mereka kian besar.
Krisna memang memiliki cakra, senjata berbentuk roda maut yang bisa menggiling siapa saja. Namun, bukan cakra itu yang membuatnya menentukan. Strategi dan kebijaksanaannya lah yang menjadi rebutan. Cakra hanyalah simbol bahwa perputaran sejarah selalu berpihak kepada mereka yang mampu membaca arah roda zaman.
Di sinilah kisah pewayangan menemukan relevansinya hari ini. Dunia kita pun sedang digilas roda cakra bernama teknologi. Disrupsi digital datang seperti arus deras yang menghantam semua sisi kehidupan. Cara kita bekerja, belajar, berkomunikasi, bahkan mencintai, berubah drastis hanya dalam hitungan tahun. Sama seperti roda pertama kali ditemukan ribuan tahun silam, teknologi kembali melahirkan guncangan besar dalam peradaban.
Pertanyaannya, bagaimana manusia menghadapi pusaran disrupsi itu? Apakah cukup dengan memperbanyak senjata wujud gawai terbaru, aplikasi mutakhir, atau jaringan tercepat? Atau justru kita membutuhkan kebijaksanaan ala Krisna: kemampuan memadukan cipta, rasa, dan karsa agar tetap tegak di tengah guncangan?
Kekuatan otot sudah lama kehilangan relevansi. Kekuatan data memang penting, tetapi ia hanyalah amunisi. Yang menentukan tetaplah strategi. Seperti Pandawa, manusia modern pun hanya akan menang jika mampu memaknai triwikrama dalam kehidupannya. Pikiran yang kritis, rasa yang empatik, dan karsa yang konsisten harus berjalan seirama.
Mari bayangkan sebuah ide besar lahir di ruang kerja. Ia berpikir tentang solusi suatu masalah, mengolah data dan membaca peluang. Jika ide itu hanya berhenti di kepala, ia akan menguap begitu saja. Tetapi ketika hatinya turut bicara tulus, penuh kepedulian maka lahirlah semangat. Lalu ketika semangat itu diwujudkan dalam aksi nyata, entah dengan membangun gerakan, mencipta teknologi , atau mennyusun pergerakan, maka terjadilah transformasi. Itulah triwikrama dalam bentuk modern: ide yang berpadu dengan rasa dan diwujudkan dalam karsa.
Sejarah membuktikan, setiap peradaban bertahan karena kemampuan mengelola harmoni antara cipta, rasa, dan karsa. Tanpa cipta, kita kehilangan visi. Tanpa rasa, kita kehilangan empati. Tanpa karsa, kita hanya jadi penonton. Krisna mengajarkan bahwa kekuatan sejati lahir dari keselarasan ketiganya.
Sayangnya, di era digital, keseimbangan itu mudah goyah. Pikiran terjebak dalam kecepatan informasi. Rasa terseret dalam pusaran emosi media sosial. Karsa sering melemah karena kelelahan menghadapi tekanan hidup. Akibatnya, manusia modern lebih sering menjadi korban roda zaman daripada penentu arah perputarannya.
Kita bisa melihat gejalanya. Pertengkaran politik di media sosial lebih sering dipicu oleh rasa benci yang tak disaring oleh cipta. Tindakan gegabah di jalanan lahir dari karsa yang tak dipandu rasa. Bahkan inovasi teknologi pun kerap kehilangan orientasi karena dikuasai cipta semata, tanpa kehadiran rasa dan karsa yang humanis.
Inilah alasan mengapa kisah pewayangan masih relevan. Ia tidak sekadar dongeng masa lalu, melainkan cermin untuk menakar diri. Krisna adalah simbol kebijaksanaan yang mampu mengarahkan kekuatan dahsyat agar tidak menelan diri sendiri.
Libur Minggu yang tenang bisa menjadi jeda untuk merenungkan hal ini. Apakah kita sudah benar-benar memadukan cipta, rasa, dan karsa dalam kehidupan sehari-hari? Ataukah kita masih terpecah, sibuk membesarkan satu sisi sambil mengabaikan yang lain?
Kita bisa belajar dari Krisna bahwa triwikrama bukan soal membesar secara fisik, melainkan memperbesar daya manfaat. Perubahan yang sejati adalah perubahan yang memberi pengaruh positif.
Dalam menghadapi roda zaman yang terus berputar, manusia membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Ia membutuhkan harmoni batin. Cipta memberi arah, rasa memberi jiwa, karsa memberi langkah. Tanpa salah satu di antaranya, manusia akan kehilangan daya tahan di tengah pusaran disrupsi.
Kisah Krisna mengingatkan, kemenangan bukan milik yang paling kuat, tetapi yang paling bijak. Sama seperti Pandawa yang menang karena strategi, manusia modern akan bertahan jika mampu menyatukan pikir, rasa, dan laku. Itulah triwikrama yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, roda cakra akan terus berputar. Teknologi akan terus berubah. Tantangan baru akan selalu muncul. Yang bisa kita lakukan hanyalah memastikan bahwa setiap putaran roda membawa kita semakin dewasa, bukan semakin tercerabut.
Di situlah letak kemenangan sejati: bukan menaklukkan lawan, melainkan menaklukkan diri.
Stasiun jurangmangu, 7 sept 2025
