Menag Dorong Penguatan Ekoteologi dalam Tata Kelola PTKN

Bagikan artikel ini:
Menag Dorong Penguatan Ekoteologi dalam Tata Kelola PTKN
Berita

Menag Nasaruddin Umar

Bogor (Pusbangkom MKMB)---Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya penguatan ekoteologi sebagai fondasi dalam membangun harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Hal ini disampaikan dalam kegiatan Lokakarya Penguatan Ekoteologi yang diselenggarakan Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) bersama Kelompok Kerja Penguatan Ekoteologi dan Forum Kepala Biro serta Kepala Bagian Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) di Hotel Grand Savero Bogor.

“Ekoteologi bukan sekadar konsep akademik, tetapi merupakan upaya membangun kesadaran kolektif manusia dalam menjaga hubungan harmonis dengan sesama dan lingkungan,” ujar Menag di Bogor, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, Kementerian Agama saat ini tengah mengembangkan trilogi kerukunan jilid dua. Jika sebelumnya fokus pada kerukunan internal umat beragama, antarumat beragama, dan hubungan umat beragama dengan pemerintah, kini diperluas pada kerukunan antarmanusia, kerukunan manusia dengan alam, serta kerukunan manusia dengan Tuhan.

“Ekoteologi sesungguhnya adalah kesadaran untuk hidup rukun, tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan alam semesta dan Tuhan,” katanya.

Menag menjelaskan bahwa konsep tersebut menjadi bagian penting dalam misi kemanusiaan Kementerian Agama. Dari semangat ekoteologi itu pula lahir gagasan kurikulum berbasis cinta yang diharapkan dapat memperkuat nilai-nilai kepedulian dan keberlanjutan lingkungan.

“Tidak mungkin manusia menjadi khalifah yang sukses dan hamba yang khusyuk jika alam semesta rusak. Karena itu, menjaga bumi merupakan bagian dari tanggung jawab spiritual,” tegas Menag.

Dalam arahannya, Menag juga menekankan peran strategis Kepala Biro dan Kepala Bagian PTKN dalam mengimplementasikan nilai-nilai ekoteologi di lingkungan perguruan tinggi keagamaan. Menurutnya, para kepala biro memiliki posisi penting dalam tata kelola kelembagaan sekaligus menjadi penggerak budaya organisasi.

“Kepala biro harus memahami spirit ekoteologi agar nilai-nilai ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan kampus,” imbuhnya.

Menag menambahkan, seluruh agama pada dasarnya memiliki ajaran yang mendorong penghormatan terhadap alam. Ia mencontohkan ajaran dalam agama Hindu, Buddha, Islam, Kristen, dan Katolik yang mengandung nilai-nilai pelestarian lingkungan serta penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup.

“Bangun hubungan yang lebih ramah dengan lingkungan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga kebersihan sungai, merawat tumbuhan, dan tidak merusak alam,” imbau Menag Nasaruddin.

Terakhir, menag mengingatkan, ekoteologi pada intinya adalah bagaimana kita bersahabat dengan alam. “Jika manusia bersahabat dengan alam, maka alam juga akan bersahabat dengan manusia,” tandasnya.

Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari, dari tanggal 19 s.d 21 Mei 2026, diikuti 60 orang yang berasal dari Forum Kepala Biro dan Kepala Bagian Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) Kementerian Agama.

Hadir pada pembukaan Kepala BMBPSDM Muhammad Ali Ramdhani, Sekretaris BMBPSDM Wawan Djunaidi, Kepala Pusbangkom MKMB Musyarrafah Amin, Kepala Pusbangkom SDMPK Mastuki, Ketua Forum Kepala Biro dan Kabag PTKN Sri Ilham Lubis, para eselon dua di lingkungan BMBPSDM dan Kabag TU Pusbangkom MKMB Nilam Nur Azizah. /RS

 

Tags:

Penulis
RAHMI SIREGAR, S.Sos.
RAHMI SIREGAR, S.Sos.
Pranata Humas Ahli Muda

Related Posts: