Bogor (Pusbangkom MKMB)---Penguatan ekoteologi menjadi bagian penting dalam implementasi program prioritas Kementerian Agama guna membangun kesadaran kolektif tentang hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama, Wawan Djunaedi, dalam materi Pedoman Pelaksanaan Penguatan Ekoteologi pada Lokakarya Penguatan Ekoteologi yang diselenggarakan Kelompok Kerja Penguatan Ekoteologi bekerja sama dengan Forum Kepala Biro dan Kepala Bagian Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) di Hotel Grand Savero Bogor.
“Pelaksanaan penguatan ekoteologi harus dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan melalui berbagai bentuk kegiatan,” ujar Sesban di Bogor, Selasa (19/5/2026).
Menurut Sesban Wawan, pelaksanaan penguatan ekoteologi mencakup sejumlah skema kegiatan, antara lain lokakarya pimpinan kementerian, pelatihan fasilitator nasional, training of trainer, orientasi penggerak, serta sosialisasi penguatan ekoteologi. “Setiap kegiatan memiliki sasaran peserta, prasyarat, dan capaian kompetensi yang berbeda sesuai kebutuhan implementasi di lapangan,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan bahwa PTKN memiliki peran strategis dalam mendukung penguatan ekoteologi melalui program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam pedoman tersebut disebutkan bahwa PTKN melaksanakan penguatan ekoteologi melalui program penelitian dan pengabdian masyarakat paling sedikit 10 persen dari dana penelitian dan pengabdian masyarakat. “Selain itu, PTKN dan satuan kerja dapat menyusun literatur, bahan diseminasi, maupun publikasi jurnal terkait ekoteologi,” imbuhnya.
Sesban menambahkan, penguatan ekoteologi juga didukung melalui penyusunan kurikulum, modul, dan bahan ajar yang dirumuskan bersama oleh Kelompok Kerja dan Pusbangkom. “Materi kurikulum mencakup nilai universal kosmologi penciptaan, krisis ekologi global dan nasional, landasan ekoteologi agama-agama, strategi implementasi kebijakan ekoteologi, hingga roadmap implementasi ekoteologi 2025–2029,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh satuan kerja Kementerian Agama dan PTKN dalam memperkuat implementasi ekoteologi sebagai bagian dari pembangunan karakter dan penguatan kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai keagamaan.
“Kita ingin penguatan ekoteologi tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi benar-benar diimplementasikan melalui kebijakan, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” tegasnya.
Lokakarya ini diikuti 60 orang kepala biro dan kepala bagian PTKN sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi pelaksanaan program penguatan ekoteologi di lingkungan Kementerian Agama dan akan berlangsung dari tanggal 19 s.d 21 Mei 2026. /RS
