Penguatan Moderasi Beragama Jadi Bekal Strategis Pemuda Lintas Agama Merawat Persatuan dan Kebhinekaan

Bagikan artikel ini:
Penguatan Moderasi Beragama Jadi Bekal Strategis Pemuda Lintas Agama Merawat Persatuan dan Kebhinekaan
Berita

Penutupan Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama bagi Pemuda Lintas Agama Nusa Tenggara Barat (NTB) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram bekerja sama dengan Pusbangkom MKMB BMBPSDM Kementerian Agama.

Mataram (Pusbangkom MKMB)—Kementerian Agama melalui Pusat Pengembangan Kompetensi, Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB) Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) terus berikhtiar dalam memperkuat ekosistem moderasi beragama serta membangun kapasitas generasi muda agar mampu merawat persatuan dan kebhinekaan Indonesia, salah satunya dengan menyelenggarakan Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama bagi Pemuda Lintas Agama Nusa Tenggara Barat (NTB) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram bekerja sama dengan Pusbangkom MKMB BMBPSDM Kementerian Agama.

Moderasi beragama harus terus digaungkan sebagai gerakan bersama untuk menjaga harmoni, persatuan, dan kehidupan berbangsa yang rukun di tengah keberagaman.

Hal tersebut mengemuka saat Sekretaris BMBPSDM (Sesban) Wawan Djunaedi hadir sebagai narasumber yang menyampaikan materi Arah dan Pengembangan Moderasi Beragama sekaligus menutup pelatihan tersebut.

Dalam paparannya, Sesban Wawan mengingatkan bahwa moderasi beragama merupakan ruh kehidupan berbangsa di Indonesia. “Tanpa penguatan moderasi, masyarakat berpotensi terjebak dalam sikap religiosentrisme, yakni kecenderungan merasa kelompok sendiri paling benar dan memandang rendah kelompok lain. Sikap semacam ini, dapat menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya eksklusivisme, superioritas, diskriminasi, hingga intoleransi,” katanya secara daring, Jumat (19/6/2026).

Sesban Wawan mengungkapkan bahwa moderasi beragama bukan sekadar program atau proyek, tetapi sebuah gerakan yang harus terus hidup dan menjadi komitmen bersama.

“Yang dimoderasi bukanlah agama, melainkan cara beragama manusia dalam memahami dan mengamalkan ajaran agamanya. Sebab, setiap agama pada dasarnya telah mengandung nilai-nilai universal yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap agama, perlindungan jiwa, penjagaan akal, keturunan, dan harta benda,” jelasnya.

Beliau juga menekankan pentingnya peran pemuda lintas agama sebagai garda terdepan dalam mengawal nilai-nilai moderasi beragama di tengah masyarakat. Menurutnya, para pemuda memiliki posisi strategis untuk membangun ruang dialog, memperkuat toleransi, serta mencegah berkembangnya paham-paham eksklusif yang dapat mengganggu kerukunan.

“Pemuda lintas agama harus menjadi motor penggerak dalam membangun komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penghargaan terhadap tradisi,” tegasnya.

Ia menambahkan, moderasi beragama bukan konsep baru, melainkan warisan nilai luhur para pendiri bangsa dan para leluhur yang telah lama hidup dalam budaya masyarakat Indonesia. Karena itu, penguatan moderasi beragama harus terus dirawat sebagai proses yang tidak pernah berhenti (never ending process).

Semoga melalui pelatihan ini, lahir generasi muda yang mampu menjadi agen perdamaian, perekat sosial, dan penggerak kerukunan lintas agama, khususnya di wilayah NTB yang dikenal memiliki keragaman sosial dan keagamaan yang kuat,” pungkasnya.

Pelatihan digelar pada tanggal 16 sd 19 Juni 2026 diikuti 40 orang peserta dari Organisasi Kepemudaan Lintas Agama Nusa Tenggara Barat.

Hadir pada kesempatan tersebut sebagai instruktur Kepala BDK Denpasar Saprillah. /RS

 

 

 

Tags:

Penulis
RAHMI SIREGAR, S.Sos.
RAHMI SIREGAR, S.Sos.
Pranata Humas Ahli Muda

Related Posts: