Bandung (Pusbangkom MKMB)---Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama menjadi ruang penguatan kapasitas bagi mahasiswa untuk memperdalam pemahaman tentang moderasi beragama, tidak hanya pada tataran konsep, tetapi juga dalam praktik kehidupan sehari-hari. Penguatan ini dinilai penting agar mahasiswa mampu menghadirkan sikap beragama yang seimbang, adil, dan menghargai keberagaman sebagai bagian dari realitas kebangsaan.
Pernyataan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama bagi Mahasiswa yang diselenggarakan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB) diikuti 40 orang mahasiswa pada tanggal 30 Juni s.d 2 Juli 2026 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Hadir sebagai narasumber menyampaikan materi Arah dan Kebijakan Moderasi Beragama, Kepala Pusbangkom MKMB Musyarrafah Amin mengatakan bahwa penguatan moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi terus menjadi ikhtiar strategis Kementerian Agama dalam membangun generasi muda yang adaptif, inklusif, dan berdaya tahan di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks.
“Moderasi beragama harus menjadi cara pandang, sikap, sekaligus praktik hidup yang mendorong lahirnya kepedulian bersama dan kerja sama lintas perbedaan,” ujarnya secara daring, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, moderasi beragama tidak cukup dipahami sebatas menerima adanya keragaman, tetapi harus mampu mengubah perbedaan menjadi energi kolektif untuk menghadirkan kemaslahatan bersama. Dalam konteks Indonesia yang plural, kemampuan mengelola keberagaman menjadi kekuatan merupakan fondasi penting dalam menjaga persatuan bangsa.
Ia menjelaskan Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama juga memberikan manfaat strategis bagi mahasiswa sebagai generasi intelektual dan calon pemimpin masa depan. “Di tengah derasnya arus informasi, disrupsi media sosial, dan berkembangnya narasi intoleransi, mahasiswa dituntut memiliki prinsip yang kuat, namun tetap terbuka, bijak, dan berimbang dalam menyikapi perbedaan,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, peserta dibekali pemahaman bahwa moderasi beragama berkaitan erat dengan penguatan komitmen kebangsaan, penghormatan terhadap martabat kemanusiaan, penghargaan atas kemajemukan, serta peneguhan nilai-nilai keadaban mulia. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting dalam membangun ruang akademik yang sehat, inklusif, dan produktif.
Lebih jauh ia menegaskan bahwa selain memperkuat literasi keberagamaan, pelatihan juga diarahkan untuk melahirkan agen-agen moderasi beragama di lingkungan kampus. Para peserta diimbau dapat menjadi penggerak yang menebarkan nilai toleransi, membangun dialog lintas perbedaan, serta memperkuat kohesi sosial, baik di lingkungan akademik maupun masyarakat luas.
Menutup paparannya, Musyarrafah mengharapkan agar sinergi antara Pusbangkom MKMB dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung menjadi bagian dari pengarusutamaan moderasi beragama yang terus diperluas Kementerian Agama, khususnya melalui jalur pendidikan tinggi. “Dengan pendekatan kolaboratif tersebut, moderasi beragama diharapkan semakin membumi dan menjadi budaya hidup generasi muda dalam merawat keutuhan bangsa,” pungkasnya.
