Madiun (Pusbangkom MKMB) – Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama, Muhammad Ali Ramdhani, menegaskan bahwa pengenalan terhadap nilai-nilai kemanusiaan merupakan hal penting dalam menjawab berbagai tantangan kehidupan beragama di Indonesia.
Menurutnya, terdapat tiga tantangan utama dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. “Pertama, adanya praktik keagamaan yang mengklaim diri sebagai yang paling benar dan menyebut lainnya salah. Kedua, munculnya paham-paham keagamaan yang cenderung radikal. Ketiga, ekspresi keagamaan yang berlebihan dan bertentangan dengan semangat kenegaraan,” ungkap Kaban Dhani saat membuka Training of Trainer (ToT) Penguatan Moderasi Beragama di Hotel Mercure Madiun, Senin (13/10/2025).
Untuk menjawab tantangan tersebut, lanjut Kaban, diperlukan pendekatan pendidikan yang berorientasi pada kemanusiaan dan menumbuhkan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai rahmatan lil alamin.
“Manusia memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai hamba Tuhan dan sebagai khalifah di muka bumi. Karena itu, pendidikan harus menumbuhkan tiga hal: behavior from head, behavior from heart, dan behavior from hand,” jelasnya.
Kaban Dhani menambahkan, pendidikan manusia yang utuh harus menyentuh tiga aspek penting, yaitu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude). Ia juga mengutip pandangan Daniel Goleman yang membagi kecerdasan menjadi beberapa jenis: intellectual quotient (IQ), emotional quotient (EQ), physical quotient (PQ), social quotient (SQ), dan spiritual quotient (SpQ).
“Kecerdasan intelektual bukan sekadar kemampuan mengingat atau berhitung cepat, melainkan memahami hubungan sebab-akibat. Kecerdasan emosional adalah kemampuan menata hati agar selaras dengan nilai kebaikan,” paparnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kecerdasan fisik karena tubuh adalah wadah untuk beribadah dan meraih kebahagiaan. “Kecerdasan sosial diperlukan agar seseorang mampu menjalin hubungan yang baik dengan sesamanya, sedangkan kecerdasan spiritual adalah puncaknya sebab semua kecerdasan akan sia-sia tanpa spiritualitas,” tegasnya.
“Dengan kecerdasan spiritual, seseorang bukan hanya memahami agamanya, tetapi juga mampu mengimplementasikan ajarannya dalam perilaku nyata,” pungkas Kaban Dhani.
Sementara itu, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Evi Muafiah, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan ini.
“Kegiatan ini adalah kerja bersama, tugas bersama untuk menjadikan moderasi beragama menjiwai kehidupan kita, disebarkan, dan dipraktikkan dalam keseharian demi persaudaraan dan kenyamanan hidup berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Dalam laporannya, Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB), Musyarrafah Amin, menjelaskan bahwa kegiatan ToT Penguatan Moderasi Beragama merupakan kerja sama antara Pusbangkom MKMB dan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.
Pelatihan berlangsung dari tanggal 13-18 Oktober 2025 dengan peserta sebanyak 30 orang, terdiri atas Wakil Rektor, Dosen, Kepala Bagian, Dekan, dan Wakil Dekan dari lingkungan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.
Hadir pula dalam pembukaan kegiatan ini Sekretaris BMBPSDM Ahmad Zainul Hamdi serta Kepala Biro Administrasi Umum, Akademik dan Kemahasiswaan Samsi. /RS
