Ponorogo (Pusbangkom MKMB)---Dunia setelah bangku kuliah akan mempertemukan mahasiswa dengan orang-orang yang berbeda latar belakang, pandangan, bahkan keyakinan. Kemampuan memahami perbedaan karena itu bukan sekadar pengetahuan tambahan, melainkan bekal untuk hidup di tengah masyarakat.
Kesadaran tersebut menjadi salah satu alasan Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB) Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menggelar Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama bagi Mahasiswa.
Sebanyak 40 mahasiswa mengikuti pelatihan yang berlangsung di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo pada tanggal 7-9 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif tentang keberagaman sekaligus mengasah kemampuan menerapkan nilai moderasi dalam kehidupan kampus dan masyarakat.
Kepala Pusat Rumah Moderasi Beragama UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo Muhammad Nurdin mengatakan, moderasi beragama tidak semestinya baru dibicarakan ketika muncul persoalan antarumat beragama karena moderasi merupakan pengetahuan dan sikap yang perlu terus dihidupkan dalam keseharian.
“Moderasi ini bukan hal yang harus muncul gara-gara ada kejadian, tetapi ini adalah sebuah keilmuan yang penting,” ujarnya di Ponorogo, Rabu (7/10/2026).
Karena itu, ia berharap mahasiswa mengikuti pelatihan secara sungguh-sungguh. Terlebih, peserta merupakan para aktivis mahasiswa yang kelak akan berhadapan langsung dengan dinamika masyarakat yang beragam.
Menurut Nurdin, pembelajaran dalam pelatihan tidak hanya bermanfaat untuk memahami moderasi beragama. Beragam teori dan pengalaman yang disampaikan para narasumber juga dapat digunakan mahasiswa ketika kembali ke lingkungan sosialnya.
“Ilmu baru yang kita pelajari itu bisa digunakan ketika pulang ke masyarakat. Teori-teori yang kita pelajari bisa kita gunakan,” katanya.
Kehadiran narasumber dari luar kampus, tambahnya, memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh sudut pandang berbeda. “Para peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai moderasi beragama, tetapi juga dapat mempelajari cara menyampaikan gagasan secara efektif dari para fasilitator yang memiliki keahlian di bidangnya,” paparnya.
Bagi Nurdin, manfaat tersebut akan semakin terasa jika mahasiswa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan tertib. “Peserta harus aktif menyerap materi, berdiskusi, dan mengambil hikmah dari setiap sesi pembelajaran,” tegasnya.
“Bekal itu penting bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk saat para mahasiswa kelak terjun ke masyarakat. Sebab, generasi hari ini akan menjadi penerus yang menghadapi dunia dengan keberagaman yang jauh lebih kompleks,” pesannya.
Pesan itu sejalan dengan harapan Pusbangkom MKMB agar pengembangan kompetensi tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Kabag TU Pusbangkom MKMB Risani menegaskan, ukuran keberhasilan kegiatan bukan semata jumlah peserta atau sertifikat yang diterbitkan, melainkan perubahan yang terjadi setelah pembelajaran.
“Pelatihan adalah awal, kompetensi adalah hasil yang ingin dibangun, kinerja adalah perubahan yang ingin diwujudkan, dan dampak adalah alasan mengapa seluruh proses tersebut kita lakukan,” ujarnya.
Risani menempatkan mahasiswa sebagai kelompok strategis dalam penguatan moderasi beragama. “Kampus merupakan ruang perjumpaan berbagai latar belakang pemikiran dan keyakinan sehingga menjadi tempat yang tepat untuk mempraktikkan nilai moderasi,” tuturnya.
Mahasiswa, lanjut Risani, tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik. “Mahasiswa jangan hanya mampu dalam bidang akademik tetapi harus bisa menjadi agen perubahan yang merawat kerukunan, menangkal narasi ekstremisme, dan menerapkan nilai moderasi beragama dalam kehidupan nyata,” tandasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo Miftahul Huda mengingatkan peserta agar mengikuti proses pembelajaran secara utuh.
Menurutnya, pelatihan ini memberikan asupan pengetahuan yang tidak diperoleh semua mahasiswa sehingga perlu dimanfaatkan secara maksimal.
“Maksimalkan pelatihan menjadi ruang pembelajaran yang dapat memperkuat karakter sekaligus memperluas pemahaman mengenai moderasi beragama,” imbaunya.
Miftahul Huda mengharapkan agar hasil pelatihan tidak berhenti pada 40 peserta. “Pengetahuan yang diperoleh dapat diteruskan melalui organisasi kemahasiswaan di tingkat universitas, fakultas, hingga program studi sehingga manfaatnya menjangkau lebih banyak mahasiswa,” tegasnya.
Dengan demikian, pelatihan ini tidak sekadar mempertemukan mahasiswa dengan narasumber. “Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang menyiapkan generasi yang mampu memahami perbedaan, mengelola keberagaman, dan membawa nilai moderasi dari ruang kelas ke kehidupan nyata,” pungkasnya./RS
