PKA XIX Menjahit Kepemimpinan yang Berdampak: Ketika Administrator Kemenag Belajar Menjadi "Jantung" Pelayanan Umat

Bagikan artikel ini:
PKA XIX Menjahit Kepemimpinan yang Berdampak: Ketika Administrator Kemenag Belajar Menjadi "Jantung" Pelayanan Umat
Berita

Penutupan Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan XIX di Kampus Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB), Ciputat, Jumat (6/11/2026).

Ciputat (Pusbangkom MKMB)---Sertifikat kelulusan bukanlah garis akhir bagi seorang pemimpin. Justru setelah pendidikan selesai, tantangan sesungguhnya dimulai: menerapkan pengetahuan, menggerakkan organisasi, dan memastikan setiap keputusan berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan publik.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama Muhammad Ali Ramdhani saat menutup Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan XIX di Kampus Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB), Ciputat.

“Keberhasilan seorang pemimpin tidak cukup diukur dari jabatan maupun kewenangan yang dimiliki. Lebih dari itu, pemimpin harus mampu menggerakkan orang lain melalui kapasitas, keteladanan, dan pengetahuan yang dimilikinya,” ujarnya di Ciputat, Jumat (6/11/2026).

Ia menjelaskan, terdapat sejumlah sumber kekuasaan yang dapat memengaruhi kepemimpinan, mulai dari penghargaan, paksaan, legitimasi jabatan, hingga pengaruh relasi. Namun, ada satu kekuatan yang perlu terus dibangun karena melekat pada diri seorang pemimpin, yakni knowledge power atau kekuatan pengetahuan.

"Orang yang terpelajar hanyalah pemilik masa lalu. Orang yang terus belajar akan menjadi pemilik masa depan," tuturnya.

Kaban Dhani, sapaan akrabnya, menegaskan, pemimpin perlu terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kapasitas diri agar mampu menjawab tantangan organisasi yang terus berkembang. “Pengetahuan bukan hanya menjadi bekal untuk mengambil keputusan, tetapi juga membangun kepercayaan dan menggerakkan perubahan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kepemimpinan di lingkungan Kementerian Agama harus berorientasi pada pelayanan umat. “Semangat tersebut sejalan dengan mandat Kementerian Agama, yakni melayani umat dan membangun bangsa, serta penguatan nilai "Ikhlas Beramal dan Berdampak,” jelas kaban.

Karena itu, lanjutnya, keberhasilan program kerja tidak boleh berhenti pada terlaksananya kegiatan atau tercapainya target keluaran (output). Setiap program harus menghasilkan manfaat (outcome), nilai tambah (benefit), hingga dampak (impact) yang dapat dirasakan masyarakat.

"Amal bukan sekadar perilaku untuk menunaikan kewajiban, tetapi harus memiliki dampak terhadap kebermaknaan hidup dan umat," ungkapnya.

Kaban Dhani mengibaratkan pemimpin seperti jantung dalam tubuh manusia. Posisinya sentral, tetapi fungsi utamanya justru mengalirkan kehidupan bagi seluruh bagian tubuh. “Demikian pula pemimpin, yang harus memastikan setiap anggota organisasi memperoleh perhatian, kepedulian, dan dukungan untuk berkembang,” pesannya.

Menurutnya, esensi kepemimpinan bukanlah meminta untuk dilayani, melainkan kesediaan menjadi pelayan bagi orang-orang yang dipimpinnya. “Prinsip ini menjadi penting agar kepemimpinan tidak berhenti pada kewenangan struktural, tetapi benar-benar hadir dalam Tindakan,” tandasnya.

Menutup arahannya, ia mengingatkan para peserta bahwa sertifikat hanyalah kelengkapan administratif. “Ujian sesungguhnya terletak pada kemampuan mengimplementasikan nilai-nilai kepemimpinan yang beradab, berkualitas, dan berlandaskan nilai keagamaan dalam pelaksanaan tugas,” pungkasnya menutup arahan.

Sementara itu, Kepala Pusbangkom MKMB, Musyarrafah Amin, dalam laporannya memaparkan bahwa PKA Angkatan XIX ini diikuti oleh 40 peserta dari unsur Eselon I Pusat, Kanwil Kemenag Provinsi, hingga Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN). “Pembelajaran melalui metode blended learning—mulai dari pembelajaran mandiri, e-learning, studi lapangan, hingga aktualisasi kepemimpinan—para peserta diuji untuk melahirkan aksi perubahan yang aplikatif,” jelasnya.

Dari total peserta yang mengikuti proses evaluasi akhir secara holistik, sebanyak 39 orang dinyatakan lulus, dengan rincian 12 orang meraih predikat Sangat Memuaskan dan 27 orang Memuaskan. Sementara itu, satu orang peserta kelulusannya ditunda karena alasan kesehatan.

“Lebih dari sekadar kelulusan administratif, orientasi pelatihan ini bergeser tajam. Sejalan dengan tagline baru Kemenag pasca-Rakernas 2024, yakni "Ikhlas Beramal dan Berdampak", perencanaan program (RKAKL) tidak lagi berhenti pada output jumlah kegiatan semata, melainkan diukur dari outcome dan benefit yang dirasakan langsung oleh umat. Tugas utama ASN Kemenag disederhanakan secara subtansial yaitu dengan mendekatkan umat beragama dengan ajarannya,” tegasnya.

Sisi humanis pelatihan ini tercermin kuat tatkala perwakilan peserta, Kabid Penmad Kanwil Kemenag Jateng Amin Handoyo, menyampaikan kesan dan pesan penuh gelak tawa namun sarat makna. Ia menceritakan bagaimana proses penggemblengan yang dibalut fasilitas asrama yang nyaman hingga kebersamaan santap kuliner Nusantara mampu merajut soliditas korps di antara para pejabat administrator pada saat pembelajaran terakhir (klasikal) pada 3-6 November 2026 di Pusbangkom MKMB .

"Kami yang tadinya merasa sebagai orang sibuk dengan segudang pekerjaan di satuan kerja masing-masing, justru menyadari bahwa pelatihan ini adalah kebutuhan fundamental untuk masa depan birokrasi kita," ungkap Amin Handoyo disambut riuh tepuk tangan peserta, sambil menyisipkan pantun jenaka penutup.

Pelatihan boleh saja usai, lembaran sertifikat telah di tangan. Namun, ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai dengan mengimplementasikan nilai-nilai kepemimpinan yang beradab, berintegritas, dan berorientasi pada kemaslahatan umat di wilayah penugasan masing-masing. “Sebab, pada akhirnya, pemimpin yang dikenang sejarah bukanlah mereka yang duduk paling depan, melainkan mereka yang paling banyak memberikan kemanfaatan bagi sesama,” tutup Amin.

Penutupan PKA Angkatan XIX menjadi penanda berakhirnya proses pembelajaran sekaligus awal pengabdian para alumni untuk menerjemahkan kompetensi kepemimpinan ke dalam kinerja nyata. Tantangannya kini bukan sekadar menduduki posisi administrator, melainkan memastikan organisasi bekerja lebih efektif, aparatur bertumbuh, dan pelayanan keagamaan semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Keluar sebagai peserta istimewa Kepala Subdirektorat Pendidikan Salafiyah dan Kajian Kitab Kuning Direktorat Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (sebelum menduduki jabatan sekarang sebagai Direktur Pemberdayaan Pesantren Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama)Yusi Damayanti, Kepala Subdirektorat Kurikulum dan Evaluasi Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Abdul Basit, dan Pembimbing Masyarakat Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan Sumarjo.

 

Tags:

PKA
Penulis
RAHMI SIREGAR, S.Sos.
RAHMI SIREGAR, S.Sos.
Pranata Humas Ahli Muda

Related Posts: