Moderasi Beragama Tak Cukup Dipahami, 37 Mahasiswa UIN KHAS Jember Dilatih Bergerak

Bagikan artikel ini:
Moderasi Beragama Tak Cukup Dipahami, 37 Mahasiswa UIN KHAS Jember Dilatih Bergerak
Berita

Kepala Pusbangkom MKMB Musyarrafah Amin tutup Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama bagi Mahasiswa UIN KHAS Jember secara daring, Sabtu malam, (24/10/2026).

Jember (Pusbangkom MKMB)---Kerukunan tidak cukup dibangun melalui pemahaman, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Sebanyak 37 mahasiswa Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember dilatih menjadi penggerak moderasi beragama yang mampu merawat perbedaan, menyebarkan pesan damai, dan memperkuat harmoni sosial di lingkungan kampus maupun masyarakat.

Hal tersebut mengemuka dalam penutupan Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama bagi Mahasiswa yang merupakan hasil kerja sama UIN KHAS Jember dengan Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB) Kementerian Agama. Pelatihan berlangsung di Hotel Bintang Mulia Jember dan ditutup secara daring oleh Kepala Pusbangkom MKMB Musyarrafah Amin, Sabtu malam (24/10/2026).

Musyarrafah menegaskan, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai generasi intelektual yang akan menentukan arah kehidupan bangsa. “Penguatan moderasi beragama tidak semestinya berhenti sebagai pengetahuan akademik, tetapi perlu diterjemahkan menjadi perilaku yang menghargai perbedaan, menolak diskriminasi, dan membangun persaudaraan,” ujarnya.

Beliau berpesan agar menjadikan pelatihan ini sebagai fondasi kerukunan. “Saya berharap seluruh peserta bergerak menuju aksi nyata yang lebih berdampak,” pesannya.

Menurut Musyarrafah, tantangan menjaga kerukunan semakin kompleks di tengah derasnya arus informasi digital dan potensi polarisasi. “Mahasiswa diharapkan mampu menggunakan nalar kritis dalam menyikapi informasi, sekaligus memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan narasi yang menyejukkan, bukan memperkeruh perbedaan,” tegasnya.

Ia juga meminta kepada para peserta agar menularkan nilai-nilai moderasi beragama kepada teman sebaya, organisasi kemahasiswaan, dan lingkungan pergaulan. “Langkah sederhana seperti menghormati keyakinan orang lain, bersikap adil, serta membuka ruang dialog dapat menjadi awal bagi tumbuhnya kehidupan sosial yang lebih harmonis,” tandasnya.

Sementara, Wakil Rektor III UIN KHAS Jember, Khoirul Faizin, menekankan pentingnya tindak lanjut agar pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti sebagai wacana. “Kampus perlu membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan moderasi beragama melalui riset kolaboratif dosen dan mahasiswa serta kegiatan pengabdian kepada Masyarakat,” katanya.

Khoirul Faizin juga mengingatkan bahwa gerakan kecil dapat menghasilkan dampak luas apabila dilakukan secara konsisten dan bersama-sama. Ia mengimbau agar memanfaatkan konten edukatif di media sosial, misalnya, dapat menjadi sarana mahasiswa untuk menyampaikan pesan toleransi dan memperluas jangkauan gerakan damai.

“Jangan pernah meragukan dampak dari hal-hal kecil yang dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan,” pesan Khoirul kepada para peserta.

Bagi mahasiswa, pelatihan ini turut membuka pemahaman baru mengenai moderasi beragama. Perwakilan peserta dari Program Studi Pendidikan Agama Islam, Moch Iqbal Ramadani, mengungkapkan bahwa sebelum mengikuti kegiatan, dirinya belum memahami konsep tersebut secara mendalam. “Setelah mengikuti rangkaian pelatihan, saya memperoleh wawasan yang lebih luas tentang pentingnya menjalankan ajaran agama secara bijak, inklusif, dan tetap menghargai perbedaan,” paparnya.

“Pengetahuan dan pengalaman yang didapat selama pelatihan akan saya dan teman-teman peserta lainnya teruskan kepada generasi muda lainnya,” tambahnya.

Iqbal juga mengajak rekan-rekannya menjadi pelopor gerakan moderasi beragama di lingkungan kampus.

Pelatihan tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas peran mahasiswa dalam merawat kerukunan. Dengan menerapkan nilai-nilai moderasi dalam pergaulan, kegiatan kemahasiswaan, pengabdian, dan ruang digital, para peserta diharapkan mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan masyarakat yang damai dan saling menghormati.

 

Tags:

Penulis
RAHMI SIREGAR, S.Sos.
RAHMI SIREGAR, S.Sos.
Pranata Humas Ahli Muda

Related Posts: