Bandung (Pusbangkom MKMB)---Moderasi beragama tidak cukup berhenti pada pemahaman konsep. Nilai-nilainya perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang memperkuat kerukunan, menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, dan membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Pesan tersebut mengemuka saat Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama Muhammad Ali Ramdhani membuka Training of Trainers (ToT) Penguatan Moderasi Beragama di Bandung. Kegiatan yang diselenggarakan BMBPSDM bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung ini berlangsung pada tanggal 26 Oktober hingga 1 November 2026.
Sebanyak 60 peserta dari berbagai profesi mengikuti pelatihan yang terbagi dalam dua kelas. Mereka dipersiapkan untuk memperkuat pemahaman sekaligus kapasitas dalam menyebarluaskan nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan masing-masing.
Kaban Dhani, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa kebijakan Kementerian Agama diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang rukun, maslahat, dan cerdas. “Ketiga hal tersebut menjadi landasan penting dalam membangun kehidupan beragama yang tidak hanya menekankan pemahaman ajaran, tetapi juga menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sosial,” ujar Dhani di Bandung, Senin malam, (26/10/2026).
“Prinsipnya, tugas setiap satuan di lingkungan Kementerian Agama adalah mendekatkan umat dengan ajarannya,” tambahnya.
Ia menjelaskan, penguatan moderasi beragama merupakan bagian dari prioritas kerukunan dan cinta kemanusiaan. “Upaya ini membutuhkan kontribusi berbagai pihak agar perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan ruang untuk membangun penghormatan, kepedulian, dan kerja sama,” jelas Dhani.
Dhani juga menyoroti pentingnya kecerdasan intelektual dan emosional dalam membentuk pribadi yang bijak. “Kecerdasan intelektual membantu seseorang memahami persoalan beserta sebab-akibatnya, sedangkan kecerdasan emosional diperlukan untuk mengelola perasaan, mengendalikan diri, dan mengambil keputusan secara tepat,” terangnya.
Menurut Dhani, bekal tersebut relevan bagi para peserta ToT yang nantinya berperan dalam penguatan moderasi beragama. Fasilitator tidak hanya perlu menguasai materi, tetapi juga mampu membangun komunikasi yang baik, memahami dinamika masyarakat, serta menyampaikan pesan secara bijak dan kontekstual.
“Karena itu, penguatan kapasitas fasilitator menjadi langkah penting agar moderasi beragama menjangkau lebih banyak kalangan,” tegas Dhani.
Pembukaan ToT ini sekaligus menandai penguatan kolaborasi BMBPSDM dengan UIN Sunan Gunung Djati Bandung melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) oleh Kaban Muhammad Ali Ramdhani dan Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rosihon Anwar.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi pengembangan kompetensi dan penyebarluasan moderasi beragama melalui dukungan lembaga pendidikan tinggi.
Hadir dalam pembukaan tersebut Sekretaris BMBPSDM Wawan Djunaedi dan Kepala Pusat Rumah Moderasi Beragama UIN Sunan Gunung Djati Bandung Usep Dedi Rostandi.
Terakhir, Kaban Dhani berpesan, melalui ToT, penguatan moderasi beragama tidak berhenti di ruang pelatihan. “Para peserta diharapkan mampu membawa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh ke lingkungan profesi dan masyarakat, sehingga nilai kerukunan dan cinta kemanusiaan semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari,” tandasnya.
