Dari Modul ke Aksi, BMBPSDM Siapkan Penggerak Ekoteologi

Bagikan artikel ini:
Dari Modul ke Aksi, BMBPSDM Siapkan Penggerak Ekoteologi
Berita

Sosialisasi Modul Penguatan Ekoteologi yang digelar Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama di Pusbangkom MKMB Ciputat.

Ciputat (Pusbangkom MKMB)—Nilai keagamaan diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjelma menjadi kebiasaan yang mengubah cara aparatur memandang dan merawat lingkungan. Semangat itu menjadi pijakan Sosialisasi Modul Penguatan Ekoteologi yang digelar Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama di Pusbangkom MKMB Ciputat.

Selama tiga hari, 28–30 September 2026, para Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi, Kabag Umum, Kabag TU, Kepala Balai Diklat Keagamaan, Kepala Loka Diklat Keagamaan, dan widyaiswara (secara daring) BMBPSDM memantapkan pemahaman terhadap modul yang telah difinalisasi. Modul tersebut akan menjadi acuan pelaksanaan Pelatihan Penguatan Ekoteologi di lingkungan Kementerian Agama sehingga proses pengembangan kompetensi memiliki rujukan yang seragam.

Kepala BMBPSDM Kementerian Agama Muhammad Ali Ramdhani menegaskan, keberhasilan modul tidak diukur dari selesainya penyusunan dokumen, melainkan sejauh mana gagasan ekoteologi mampu dipahami, dihayati, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Ukuran keberhasilannya bukan sekadar modul dilahirkan, tetapi bagaimana konsep ekoteologi dapat dipelajari oleh semua pihak dan menjadi rujukan bersama dalam pengembangan kompetensi," ujarnya di Ciputat, Senin (28/9/2026)

Menurut Dhani, sapaan akrab Kaban,  modul ini dirancang melampaui pendekatan kognitif. “Nilai-nilai keagamaan dipadukan dengan kesadaran ekologis agar peserta tidak hanya memahami hubungan manusia dengan alam secara rasional, tetapi juga membangun penghayatan yang mendorong tindakan nyata,” jelasnya.

Ia menyebut pendekatan itu bertumpu pada tiga unsur utama: head, heart, dan hand. Pengetahuan membentuk cara berpikir, penghayatan menguatkan kesadaran batin, sedangkan tindakan menjadi wujud nyata kepedulian terhadap lingkungan.

"Ilmu harus mampu menggerakkan tangan untuk berbuat, mulai dari pengurangan sampah, mengurangi penggunaan plastik, hingga penanaman pohon sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai agama," katanya.

Dhani juga mengapresiasi tim penyusun yang berhasil menuntaskan modul sebagai bagian dari penguatan program prioritas Kementerian Agama. “Karya tersebut akan bermakna apabila terus diteruskan dan disebarluaskan melalui para fasilitator di berbagai satuan kerja.” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris BMBPSDM Wawan Djunaedi melaporkan bahwa modul telah disusun dalam 11 bagian dan memperoleh penyempurnaan melalui masukan para ahli sebelum memasuki tahap uji coba.

Ia menjelaskan, pelatihan tidak diarahkan sekadar melahirkan pegiat ekologi, melainkan membentuk aktivis ekoteologi yang mampu mengintegrasikan kepedulian lingkungan dengan nilai-nilai agama dalam praktik keseharian.

“Setelah uji coba, para widyaiswara dari Balai Diklat Keagamaan dan Loka Diklat Keagamaan akan mendapatkan penguatan sebagai fasilitator agar implementasi modul berjalan konsisten di seluruh satuan pendidikan dan pelatihan Kementerian Agama,” jelasnya.

Dengan pola tersebut, sosialisasi tidak berhenti sebagai forum pengenalan materi. “Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi langkah awal membangun jejaring fasilitator yang akan membawa semangat ekoteologi ke ruang-ruang pembelajaran, sekaligus mengubah nilai keagamaan menjadi budaya kerja yang berdampak bagi lingkungan,” tegas Wawan menutup laporannya./RS

 

Tags:

Penulis
RAHMI SIREGAR, S.Sos.
RAHMI SIREGAR, S.Sos.
Pranata Humas Ahli Muda

Related Posts: