Wara': Self-Control Systemara': Self-Control System

Bagikan artikel ini:
Wara': Self-Control Systemara': Self-Control System
Opini

Syafi'I (Inspektur 3, Inspektorat Jenderal Kementerian Agama)

Dikisahkan seorang pemuda yang dikenal wara', Idris bin Abbas, tengah melakukan perjalanan. Di tengah perjalanan ia kehabisan bekal. Idris kemudian beristirahat di tepi sungai. Dalam istirahatnya, ia menemukan sebiji buah delima yang hanyut di sungai.

Perut yang lapar mendorongnya untuk memungut dan memakan buah delima tanpa berfikir panjang. Belum habis buah yang dimakan, dia tersentak. Dia menyesal kenapa dia memakan buah yang bukan miliknya. Dalam penyesalannya dia bertekad ingin meminta kehalalan kepada pemilik buah yang dimakannya.

Sambil menggenggam sisa buah yang belum dimakannya, dia menyusuri sungai ke arah hulu, ke tempat yang dia duga asal buah itu hanyut dibawa arus sungai. Tibalah dia sampai ke sebuah kebun delima. Dia meyakini bahwa buah delima yang terlanjur dimakan sebagian itu berasal dari pohon di kebun ini.

Kebetulan di kebun tersebut ada seorang tua penjaga kebun. Idris memberanikan diri untuk bertanya kepadanya. "Apakah Bapak penjaga kebun ini?". "Iya, betul". "Siapa pemilik kebun ini, Pak Tua?" tanyanya lebih lanjut. "Sayalah pemiliknya. Ada apa kiranya, anak muda?" jawabnya dengan penuh selidik serta pandangan mata yang tajam. "Maafkan saya, Pak Tua. Saya minta maaf dan sekaligus minta untuk dihalalkan. Tadi saya menemukan sebiji buah delima yang hanyut di sungai, lalu saya memakannya. Ternyata buah itu berasal dari kebun Pak Tua. Oleh karena itu saya minta Pak Tua mau memafkan dan menghalalkan buah yang telah saya makan," permintaan Idris sambil menunjukkan sisa buah belum dimakan.

Dengan kekaguman terhadap akhlak anak muda di hadapannya itu sambil tetap memandanginya dengan pandangan yang tajam, Pak Tua bertanya, "Kamu mau saya menghalalkan buah yang kamu makan?" "Betul, Pak Tua", jawab Idris ketakutan. "Baik, untuk menghalalkannya, ada syaratnya!" "Apa syaratnya, Pak Tua? Katakanlah saya akan memenuhinya agar buah yang telah saya makan tersebut halal," pinta Idris.

"Baik, kamu harus membersihkan kebun saya selama sebulan," kata Pak Tua. Tegas. "Baik, dengan senang hati saya akan mengerjakannya". Sejak saat itu setiap hari Idris membersihkan kebun Pak Tua dengan rajin.

Genap sebulan dia bekerja. Setelah membersihkan kebun seperti hari-hari sebelumnya, dia menghadap pemilik kebun dan melaporkan bahwa syarat telah dipenuhi dengan baik. "Benar, kamu sudah memenuhi syarat. Tapi masih ada satu syarat lagi," kata Pak Tua, mantap. Tersentak Idris mendengarnya lalu bertanya, "apa itu, Pak Tua?"."Kamu harus menikahi anakku. Dia seorang puteri yang buta, tuli, bisu, dan lumpuh."

Bagai disambar petir mendengar syarat yang diucapkan oleh Pak Tua pemilik kebun. "Demikian beratnya syarat untuk menghalalkan sebiji buah delima yang dimakannya," kata hati Idris. "Jika itu syarat untuk menghalalkan sebuah delima yang telah saya makan, saya siap menerimanya," kata Idris lirih.

Setelah upacara pernikahan, Pak Tua mempersilakan Idris untuk menemui istrinya di kamar. Setelah mengetuk pintu kamar yang dimaksud dan membuka tirainya, dia terkejut. Gadis yang dia temui di dalam kamar bukan seorang gadis yang cirinya seperti disebutkan oleh Pak Tua. Dia mendapati seorang puteri cantik jelita, anggun, dan sempurna.

"Oh, maafkan saya. Saya salah masuk kamar," kata Idris sambil bergegas keluar kamar. Namun, dari balik punggungnya, Idris mendengar seruan, "Anda tidak salah. Ini memang kamar yang dimaksud oleh ayahanda. Sayalah puteri yang baru dinikahkan itu."

Sementara itu, Idris sudah sampai di hadapan Pak Tua dan mengadukan kejadian yang baru saja dialaminya. "Anakku, Idris, kamu tidak salah masuk kamar. Dialah anakku yang baru saja aku nikahkan untukmu. Dia aku sebut sebagai seorang gadis yang buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Semua benar. Dia buta dari melihat kemaksiatan; tuli dari mendengarkan ucapan yang tidak berguna; bisu dari ucapan yang buruk, dusta, dan fitnah; serta dia lumpuh dari bepergian ke tempat maksiat dan kesia-siaan." Bergetar hati Idris mendengar penjelasan dari ayah mertuanya. Beruntungnya dia mendapatkan seorang gadis yang terlindungi dari maksiat dan kesia-siaan usia. Dari pasangan inilah kelak lahir seseorang yang terkenal dengan nama Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin Abbas as-Syafi'i, seorang ulama fiqh yang sangat masyhur, pendapatnya menjadi mazhab umat Islam di segala penjuru.

Perilaku Idris bin Abbas dalam Islam dikenal dengan sebutan wara', yaitu sikap hati-hati dan waspada dalam menjalankan ibadah dan aktivitas sehari-hari, terutama dalam hal yang berkaitan dengan halal dan haram, serta kebaikan dan keburukan. Orang yang memiliki sifat wara' berusaha untuk menjauhi segala sesuatu yang meragukan dan berpotensi mengarah pada dosa atau kesalahan, sangat selektif dalam memilih makanan dan memastikan bahwa sumbernya halal dan tidak berasal dari harta yang haram.

Kebanyakan orang mungkin beranggapan bahwa buah yang dimakan Idris "hanya" sebiji delima dan ditemukan di tempat umum, bukan mengambil dari tanah milik orang lain. Seolah buah tersebut memang dikirim oleh Allah untuk Idris yang sedang lapar. Jadi, buat apa harus bersusah payah mencari dan meminta kehalalan dari pemiliknya yang tidak diketahui siapa dan dimana.

Bagi orang yang wara' kecil dan besar hanya soal kuantitas. Di tempat umum atau di tempat penguasaan orang, hukumnya sama aja, bukan hak milik sendiri. Oleh karena itu harus diminta kerelaan dan kehalalannya.

Siapa kira untuk menebus kehalalan sebiji delima yang dimakan karena terpaksa harus dengan membersihkan kebun sebulan lamanya. Tetapi, untuk menjaga agar dirinya hanya makan barang yang jelas halalnya dia terima syarat tersebut dengan lapang dada.

Idris tidak menyangka ternyata syarat membersihkan kebun belum cukup. Dia harus menerima untuk menikahi puteri yang disebut buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Sebelum mengetahui yang sebenarnya, Idris meyakini betul bahwa calon istrinya seperti yang disebutkan oleh calon mertuanya. Namun, Idris menerimanya dengan rela. Lagi-lagi karena untuk menjaga agar darah yang mengalir dalam tubuhnya tidak bercampur dengan barang syubhat, apalagi haram.

Rupanya itu adalah hadiah dari calon mertua untuk menjodohkan seorang pemuda yang wara' dengan puterinya, seorang perempuan yang sangat menjaga kehormatan dirinya ('iffah). Sungguh pasangan idaman. Tidak mengherankan dari pasangan dengan standar moral yang sangat tinggi ini terlahir seorang ulama besar, Abu Abdullah Muhammad bin Idris yang masyhur disebut Imam Syafi'i.

 Idris bin Abbas hanya ada satu di dunia dan tidak akan ada orang yang seperti dia. Terlebih di era sekarang dimana orientasi hidup dan kesuksesan diukur dengan kepemilikan harta benda dan atribut duniawi lainnya. Kita tidak hendak menjadi Idris-Idris yang baru, akan tapi kita perlu mencontoh perilaku wara'-nya.

Memilih makanan halal sangat mudah. Tetapi, memakan makanan yang sumbernya benar-benar halal di era sekarang tidak mudah. Hanya orang yang memiliki standar moral tinggi, keteguhan sikap, dan menjunjung nilai-nilai spiritualitas yang mampu melakukannya di tengah pandangan dunia yang sangat permisif dan orientasi hidup sudah bergeser ke duniawi. Namun, sikap ini sangat dibutuhkan sebagai self-control system agar tidak terseret dalam tindakan tidak terpuji.

Tidak harus seperti Idris bin Abbas, tetapi self-control system perlu dimiliki dengan motif apapun. Self-control system adalah kemampuan untuk mengontrol pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang untuk mencapai tujuan dan nilai-nilai yang diinginkan. Ini aspek penting dari kecerdasan emosi dan dapat membantu seseorang untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup.

Orang yang memiliki self-control yang baik, menurut Walter Mischel (2014), darinya akan lahir tindakan-tindakan positif, sampai pada tindakan yang disebut dengan Delayed Gratification, yaitu kemampuan untuk menunda kepuasan jangka pendek untuk mencapai tujuan jangka panjang yang lebih besar. Kita tidak mengerjakan dan memakan yang syubhat, apalagi yang haram karena ada nilai-nilai luhur yang hendak kita gapai. Wallahu a'lam bi al-shawab.

Tags:

Penulis
Dr. SYAFI`I, M.Ag
Dr. SYAFI`I, M.Ag
Kepala Pusat

Related Posts: