Tarhib Ramadan, Perlunya Pemimpin Shiddiq, Amanah, Tablig, dan Fathanah Dalam Organisasi

Bagikan artikel ini:
Tarhib Ramadan, Perlunya Pemimpin Shiddiq, Amanah, Tablig, dan Fathanah Dalam Organisasi
Berita

Menyambut bulan suci Ramadan 1446 H, Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB) Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama menyelenggarakan Tarhib Ramadan bersama Kaban: Strategi Pengembangan SDM Kementerian Agama dalam Menyikapi Kebijakan Efisensi Anggaran di aula KH. Saefudin Zuhri lt. 1 Pusbangkom MKMB, Selasa (25/2/2025).

Ciputat (Pusbangkom MKMB)---Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1446 H, Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB) Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama menyelenggarakan Tarhib Ramadan bersama Kaban: Strategi Pengembangan SDM Kementerian Agama dalam Menyikapi Kebijakan Efisensi Anggaran di aula KH. Saefudin Zuhri lt. 1 Pusbangkom MKMB. Kegiatan ini diawali dengan makan siang bersama seluruh pegawai Pusbangkom MKMB dan dibuka dengan diiringi tim marawis  Bujubbuneng dari Pusbangkom MKMB.

Kepala Badan (Kaban) Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama M. Ali Ramdhani didampingi Sekretaris BMBPSDM Kementerian Agama Ahmad Zainul Hamdi dan Kepala Pusbangkom MKMB Syafi’i menjelaskan teladan sifat Rasullah  sebagai pemimpin. Semasa hidup dan memimpin umat, Rasullah memegang teguh empat sifat shiddiq, amanah, tablig dan fathanah. “Manusia terlahir sebagai pemimpin tidak perduli dia laki-laki atau perempuan paling tidak pemimpin untuk dirinya sendiri,” ujar Kaban Dhani di Ciputat, Selasa (25/2/2025).

“Shiddiq artinya jujur. Kejujuran adalah sikap utama yang selalu dipegang Rasulullah dalam memimpin, beliau dikenal sebagai sosok yang sangat jujur dan jauh dari dusta,” terang Dhani. Kejujuran harus tertanam dalam diri pemimpin. Pemimpin yang jujur tidak akan membohongi orang yang dipimpinnya. Ia akan jujur kepada dirinya sendiri maupun kepada masyarakat, sebab pemimpin yang jujur paham bahwa kejujuran akan membawa kebaikan dalam segala hal,” tambahnya.

Seorang pemimpin harus memiliki sifat tablig, lanjut Dhani. “Selain berani menyuarakan kebenaran dan berani dinilai secara kritis oleh rakyat, pemimpin yang tablig juga tidak bisa dibeli dengan kekuatan apa pun. Ia tegas dalam pendirian dan tegar dalam prinsip membela kebenaran,” tuturnya.

Kemudian Fathanah, artinya cerdas. Kecerdasan, kemampuan menguasai persoalan dan mengatasi masalah mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Kecerdasan itu sendiri terbagi kepada kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual,” terang Dhani.

Amanah artinya melakukan sesuatu aktifitas sesuai dengan mandat, tanggung jawab dan janjinya. “Ibu dan Bapak dulu berjanji untuk mengabdikan diri sepenuh hati untuk negara ikhlas beramal dan sebagainya. Tidak pernah ngobrol efisiensi, yang penting negara amanah dengan membayar gaji kita. Efisiensi tidak mengganggu gaji kita jadi tidak perlu dipermasalahkan. Cari lebihan? Boleh, tapi harus proporsional,” katanya.

“Sama halnya ketika kita memasuki puasa Ramadan, puasa Ramadan itu secara sederhana kita melakukan efisiensi untuk apa? untuk janji sang Khalik, bahwa orang berpuasa adalah orang yang sehat,” ungkap Dhani.

Dhani juga mengungkapkan ada  satu penelitian menyebutkan bahwa proses puasa  mampu menghancurkan sel-sel bakal kanker. “Jadi dengan efisiensi ini, laksanakan saja amanah dengan sebaik-baiknya karena itu mandat, janji dan eksistensi kita. Percayalah rezeki itu sudah ada yang atur.

Jadi Allah itu menunjukkan jalan yang kerap kali kita hindari dan tidak sukai tapi sebenarnya itu jalan cepat menuju tujuan hidup kita. Evaluasi diri. “Husnudzon terhadap sang Khalik,” pesan Kaban.

“Jika anda ingin menjadi pemimpin sesungguhnya layani orang dengan baik kemudian apa yang menjadi kriterianya adalah kecerdasan, amanah, siddiq dan tablig. Bahwa seorang pemimpin adalah orang yang mengakselerasi melakukan percepatan terhadap pencapaian tujuan organisasi,” pungkas Kaban Dhani.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris BMBPSDM Kementerian Agama Ahmad Zainul Hamdi juga menyampaikan hal senada. “Kita tidak punya alasan untuk khawatir tehadap efisiensi. Jangan-jangan apa yang selama ini kita anggap sebagai program, mungkin lebih banyak lemaknya dari dagingnya. Apakah dengan efisiensi, daging programnya masih bisa berjalan atau tidak? Jika masih bisa terlaksana berarti memang lemaknya yang banyak,” kata Sesban.

“Jadi laksanakan tugas dan amanah sebagai ASN dengan sebaik-baiknya dengan efisiensi atau pun tanpa efisiensi,” pesannya.

Tarhib Ramadan diakhiri dengan mushofahah dan pembagian sembako sebagai tanda kasih dari widyaiswara Pusbangkom MKMB kepada Non Pegawai Aparatur Sipil Negara (NPASN)./RS

 

 

Tags:

Penulis
RAHMI SIREGAR, S.Sos.
RAHMI SIREGAR, S.Sos.
Pranata Humas Ahli Muda

Related Posts: