Ciputat (Pusbangkom MKMB)—Merah Putih tidak cukup dimaknai sebagai simbol yang dikibarkan setiap peringatan kemerdekaan. Lebih dari itu, semangat kebangsaan perlu hadir dalam cara aparatur bekerja, menjaga amanah, menghargai perbedaan, dan memberikan pelayanan yang berdampak bagi masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam Webinar SERASI Seri 11 bertajuk SETIA MERAH PUTIH: Selaras Etika, Teguh Integritas, Merawat Ragam Harmoni, Perekat Umat yang Tangguh, Inovatif, dan Humanis, yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB) secara daring di Ciputat.
Kepala Pusbangkom MKMB Musyarrafah Amin sebagai keynote speaker, mengajak para peserta untuk memaknai pengabdian kepada bangsa melalui nilai-nilai yang hidup dalam keseharian. “Kesetiaan kepada Merah Putih harus tercermin dalam perilaku, sikap, keputusan, serta manfaat yang diberikan aparatur kepada organisasi, masyarakat, dan umat,” ujarnya di Ciputat, Kamis (20/8/2026).
Tema SETIA MERAH PUTIH, menurut Musyarrafah, menjadi relevan karena menempatkan etika sebagai arah dalam bertindak dan integritas sebagai kekuatan dalam menjaga amanah. “Keberagaman pun tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh, melainkan kekuatan untuk memahami Indonesia dari sudut pandang yang lebih luas,” imbuhnya.
Ia menekankan, ASN di tengah perubahan yang berlangsung cepat tidak cukup hanya memiliki kompetensi. Aparatur juga dituntut memiliki karakter, integritas, empati, dan kemampuan menghadirkan dampak melalui pekerjaannya. Bekerja lebih cepat, kata dia, penting, tetapi bekerja lebih benar dan memberi manfaat merupakan hal yang tidak kalah penting.
Dalam kesempatan itu, Musyarrafah menitipkan tiga pesan. “Pertama, menjaga integritas bahkan ketika tidak ada yang melihat. Kedua, menjadikan perbedaan sebagai kekuatan. Ketiga, tidak kehilangan sisi kemanusiaan dalam bekerja,” katanya.
Pesan tersebut mengingatkan bahwa di balik setiap pelayanan terdapat manusia yang menunggu, sementara di balik setiap kebijakan ada masyarakat yang merasakan dampaknya. Karena itu, profesionalisme harus berjalan beriringan dengan empati.
“Bekerjalah dengan aturan tetapi jangan kehilangan hati. Bekerjalah dengan target tetapi jangan kehilangan empati. Dan bekerjalah secara profesional tetapi tetaplah humanis,” tegasnya.
Semangat itu, lanjutnya, perlu diterjemahkan melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana dalam kehidupan dan lingkungan kerja. “Datang tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, berkata jujur, berkomunikasi secara santun, menghargai perbedaan, mendengarkan rekan kerja, serta memberikan pelayanan dengan tulus merupakan langkah-langkah kecil yang dapat menumbuhkan budaya integritas,” ungkapnya.
Musyarrafah mengatakan hal-hal sederhana tersebut dapat berkembang menjadi karakter pribadi dan budaya organisasi. “Integritas tidak lagi berhenti sebagai slogan, sementara harmoni tidak sekadar menjadi jargon, melainkan hadir dalam perilaku di lingkungan kerja, keluarga, masyarakat, serta kehidupan berbangsa dan bernegara,” tandasnya.
Webinar SERASI seri 11 juga menghadirkan cara lain dalam merawat semangat keberagaman. Pusbangkom MKMB menampilkan parade wastra Nusantara sesuai dengan tema kegiatan. Beragam kain tradisional yang dikenakan menjadi representasi kekayaan identitas Indonesia sekaligus penanda bahwa keragaman dapat dirawat dalam satu semangat persatuan.
Penampilan tersebut sejalan dengan salah satu pesan utama webinar yaitu keberagaman bukan sekadar kenyataan yang harus diterima, melainkan kekuatan yang perlu dijaga. Merawat ragam berarti membuka ruang untuk saling memahami, sementara harmoni tumbuh ketika perbedaan tidak dipertentangkan, tetapi dipertemukan dalam tujuan bersama.
Pada akhirnya, Webinar SERASI Seri 11 tidak semata menjadi ruang pertemuan untuk mendiskusikan nilai-nilai kebangsaan, melainkan menjadi titik tolak untuk membawa pulang satu nilai yang diperkuat, satu kebiasaan baik yang dimulai, dan satu komitmen yang diteguhkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
Musyarrafah mengingatkan bahwa yang menentukan makna sebuah kegiatan bukan hanya berapa banyak webinar yang diikuti atau sertifikat yang diperoleh. “Yang lebih penting adalah perubahan yang lahir sesudahnya, apakah aparatur menjadi lebih sadar, lebih peduli, lebih menghargai perbedaan, lebih berintegritas, dan lebih tulus dalam mengabdi,” imbaunya.
Dengan semangat Merah Putih, pengabdian ASN diharapkan tidak berhenti pada rutinitas dan pencapaian target. Indonesia, kata Musyarrafah, membutuhkan aparatur yang memiliki nilai, tidak hanya profesional, tetapi juga humanis; tidak hanya bekerja, tetapi memberikan dampak.
“Bekerja bukan hanya tentang menyelesaikan tugas atau memenuhi kewajiban. Ada amanah yang harus dijaga, nilai yang harus ditegakkan, dan yang terpenting adalah kesadaran bahwa kita sebagai aparatur negara memiliki tugas memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” pungkasnya.
