Bandung (Pusbangkom MKMB)---Kepemimpinan adaptif tidak lahir dari ruang kelas semata. Ia tumbuh ketika gagasan bertemu praktik yang telah terbukti menghadirkan perubahan. Semangat itulah yang mewarnai Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXX Tahun 2026 yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB) di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jumat (25/9/2026).
Kegiatan yang didampingi Kepala Badan (Kaban) Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama Muhammad Ali Ramdhani itu menjadi bagian dari pembelajaran lapangan PKN II yang berlangsung secara blended learning pada 4 Agustus hingga 4 Desember 2026. Melalui tema "Strategi Kepemimpinan Adaptif dalam Penguatan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan Berbasis Ekoteologi," para peserta diajak menyerap praktik-praktik terbaik kepemimpinan yang dapat diadaptasi menjadi rekomendasi kebijakan di instansi masing-masing.
Bagi Dhani, sapaan akrab Kaban, pemilihan UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai lokus pembelajaran bukan tanpa alasan. Perguruan tinggi tersebut dinilai berada pada fase transformasi yang menempatkan kurikulum berbasis cinta sebagai salah satu praktik unggulan yang relevan untuk dipelajari calon pemimpin birokrasi.
"UIN Sunan Gunung Djati Bandung berada pada fase transformasi kurikulum berbasis cinta yang relatif berada di garda terdepan dibanding institusi lain. Karena itu, kita ingin belajar secara nyata dari pengalaman praktis yang telah dibangun di sini," ujarnya di Bandung, Jumat (25/9/2026).
Dhani menegaskan, pembelajaran di PKN II diarahkan agar para peserta tidak berhenti pada kemampuan menyusun program, melainkan mampu menghadirkan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Ia mengutip arah kebijakan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menekankan bahwa setiap program kerja harus diukur tidak hanya dari input, proses, dan output, tetapi juga outcome, benefit, hingga impact.
"Ilmu tanpa amal tidak akan menghasilkan dampak. Karena itu, setiap program harus mampu mengubah lingkungan menjadi lebih baik dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat," tegasnya.
Menurutnya, prinsip tersebut selaras dengan prioritas Kementerian Agama dalam memperkuat kerukunan dan cinta kemanusiaan sebagai fondasi pembangunan kehidupan beragama yang inklusif.
Sebanyak 15 peserta PKN II yang mengikuti lokus UIN Sunan Gunung Djati Bandung memanfaatkan visitasi untuk menggali praktik kepemimpinan, tata kelola sumber daya manusia, hingga implementasi kurikulum berbasis cinta sebagai inspirasi penyusunan policy brief.
Menutup sambutannya, ia mengapresiasi sinergi UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Pusbangkom MKMB dalam mengorkestrasi pembelajaran yang mempertemukan praktik baik dengan pengembangan kompetensi kepemimpinan nasional.
“Pengalaman empiris tersebut tidak berhenti hanya sebagai pengetahuan, melainkan menjadi bekal bagi para peserta dalam membangun kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif, dan mampu menerjemahkan nilai-nilai kerukunan menjadi kebijakan yang berdampak di lingkungan kerja masing-masing,” pungkasnya. /RS
