Ciputat (Pusbangkom MKMB)---Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB) Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama Syafi’i mengatakan bahwa tujuan penyelenggaraan Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) adalah mengembangkan kompetensi peserta dalam rangka memenuhi standar kompetensi manajerial Jabatan Administrator, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur standar kompetensi jabatan.
Bertepatan hari ini tanggal 2 Mei yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), ada filosofi Pendidikan dan kepemimpinan yang digagas oleh tokoh pelopor Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara. “Beliau memperkenalkan semboyan "Ing ngarso sung tulada, didepan itu harus memberikan teladan; ing madya mangun karsa, di tengah memberikan semangat; tut wuri handayani, di belakang harus memberikan dorongan,” jelas Syafi’i saat memberikan sambutan pada pembukaan PKA Angkatan XVIII di Ciputat, Jumat (2/5/2025)
PKA diselenggarakan Pusbangkom MKMB dengan menggunakan metode blended learning dari tanggal 17 Maret s.d 24 Juli 2025. Peserta Angkatan XVIII berjumlah 38 orang pejabat administrator Kementerian Agama, terdiri dari Kementerian Agama Pusat 7 orang, Kanwil Kementerian Agama Provinsi 20 orang dan PTKN 11orang.
Dikatakan Syafi’i, seorang pemimpin, di mana pun berada, di level apa pun, harus bisa tampil memberikan teladan. Jadi, kata kuncinya, pemimpin itu harus memberikan teladan dalam situasi dan kondisi apa pun,” ujar Syafi’i.
Menurut Syafi’i, keteladanan orang pemimpin harus di kedepankan. “Keteladanan dalam hal integritas, inovasi, sikap dan tanggung jawab,” imbuhnya.
Sebagai pemimpin, lanjutnya, selain skill teknis manajerial, seorang leadership yang utama adalah harus memberikan keteladanan. Ini sangat penting,” tegas Syafi’i.
Beliau mengungkapkan, salah satu program prioritas Menag adalah Kementerian Agama Berdampak. “Kehadiran agama adalah untuk menjadikan Kita sebagai orang yang tidak lepas kontrol, dan juga sebaliknya jangan sampai kemudian menjadi orang yang tidak mengenal kehidupan duniawi. Kehadiran agama untuk memberikan landasan spiritual, landasan moral dan landasan etika. Maka dikatakan agama berdampak bagaimana kehidupan keagamaan itu bisa mewarnai kebaikan untuk diri dan lingkungan Kita,” terangnya.
Seperti disampaikan Menag saat launching penanaman sejuta pohon matoa di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), beliau mengemukakan bahwa agama apa pun mengesakan Tuhan. Tuhan itu adalah zat yang maha segalanya, mulai dari zat yang mencipta sampai zat yang membinasakan dan mematikan. Dia yang memberi kelapangan (al-Bãsith) Dia pula yang menyempitkan (al-Qãbidl). Dia punya sisi feminin dan sisi maskulin. Feminin merupakan dimensi yang melahirkan sifat-sifat seperti cinta dan kasih sayang (ar-Rahmân-ar-Rahîm), welas asih (al-wadûd), lembut (al-Lathîf) dan lain-lain. Maskulin adalah dimensi yang manifestasinya berupa karakter yang kuat (al-Qawiyy), memaksa (al-Jabbâr), menundukkan (al-Qahhâr), dan megah/sombong (al-Mutakabbir),” papar Kapus Syafi’i.
Walaupun memiliki dimensi maskulin dan feminin Tuhan justru lebih banyak menampilkan dimensi feminin dari pada maskulin. Dimensi maskulin Tuhan disebut dalam jumlah yang yang sedikit: al-Jabbâr, al-Qahhâr, dan al-Mutakabbir . Sedangkan sisi feminin sangat mendominasi: al-Rahmân, al-Rahîm dan al-Rahmân- al-Rahîm dalam satu rangkaian. Seolah Allah menegaskan bahwa Dia ingin lebih dikenal sisi feminin-Nya daripada sisi maskulin.
“Ketika melihat sesuatu, dengan pandangan sikap feminin maka yang terjadi adalah menempatkan yang Kita pandang sebagai subjek bukan objek,” tutur Kapus.
Inilah yang ditekankan Pak Menteri kenapa ada kurikulum cinta supaya kita memandang sesuatu lahir dari perasaan cinta. Dan saya meyakini semua agama mengajarkan cinta. Cinta kemanusiaan, cinta kehidupan. Kalau ini menjadi cara pandang, titik awal memandang sesuatu, memperlakukan sesuatu, inilah yang diharapkan agama berdampak,” jelasnya.
“Ibu/Bapak harus melakukan inovasi, Saya yakin Ibu/Bapak adalah orang-orang yang teruji karena sudah melalui proses panjang. Inovasi bukan hal baru, Pelatihan Kepemimpinan hanya memfasilitasi, mengembangkan apa yang sebenarnya sudah Ibu/Bapak miliki. Muaranya adalah untuk mewujudkan agama berdampak,” pungkas Syafi’i menutup sambutannya.
Hadir pada kesempatan ini Kabag TU Nilam Nur Azizah, Pengawas Tim Kerja Penyelenggaraan Pelatihan Teknis Administrasi dan Fungsional/Koordinator widyaiswara Ispawati Asri, Ketua Tim Kerja Penyelenggaraan Pelatihan Kepemimpinan dan Struktural Sri Mulyati dan Ketua Tim Kerja Penyelenggaraan Pelatihan Teknis Administrasi dan Fungsional Deden Wahyudin. /RS
