Ciputat (Pusbangkom MKMB)—Memaknai kemerdekaan tidak cukup dengan menggelar perayaan. Semangat kemerdekaan juga perlu hadir dalam tindakan yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Prinsip itu menjadi ruh rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB) dan Pusat Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Keagamaan (Pusbangkom SDMPK) Kementerian Agama.
Rangkaian kegiatan diawali dengan senam pagi bersama, kemudian dilanjutkan dengan bakti sosial berupa kerja bakti membersihkan tiga masjid di sekitar lingkungan Pusbangkom, yakni Masjid Al Muhajirin, Masjid As Salam, dan Masjid Al Husna.
Kepala Pusbangkom MKMB Musyarrafah Amin mengatakan rangkaian kegiatan tersebut dirancang dengan dua makna utama, yakni keseimbangan dan kepedulian. Keseimbangan diwujudkan melalui upaya menjaga kesehatan jasmani sekaligus memenuhi kewajiban sosial sebagai bagian dari masyarakat.
“Perayaan kemerdekaan tidak hanya diisi dengan olah tubuh atau hiburan, tetapi perlu ada keseimbangan dalam aksi nyata di masyarakat,” ujar Musyarrafah di Ciputat, Rabu (12/8/2026).
Menurut dia, senam pagi menjadi ruang untuk menjaga kebugaran dan membangun kebersamaan pegawai. Sementara itu, bakti sosial menjadi bentuk kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan sederhana tetapi memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
Musyarrafah mengharapkan bersih-bersih masjid dapat menciptakan lingkungan rumah ibadah yang lebih bersih dan nyaman sehingga dapat mendukung kekhusyukan masyarakat dalam beribadah. Pada saat yang sama, kegiatan tersebut turut meringankan beban pengurus masjid dalam merawat lingkungan tempat ibadah.
“Selain membuat lingkungan lebih nyaman dan bersih, kegiatan ini juga dapat meringankan beban pengurus masjid serta mempererat silaturahmi dengan masyarakat sekitar,” katanya.
Bagi pegawai Pusbangkom, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas dan kerja sama. “Turun bersama membersihkan lingkungan masjid membuat hubungan antarpersonel tidak hanya terbangun dalam ruang kerja, tetapi juga melalui aktivitas sosial yang dikerjakan secara bersama-sama,” tutur Musyarrafah.
Kegiatan ini, lanjut Musyarrafah, diharapkan menumbuhkan rasa bangga sekaligus menghadirkan pengalaman bahwa pekerjaan yang dilakukan secara bersama dapat memberikan makna lebih luas.
“Lebih dari itu, aksi sosial tersebut dinilai selaras dengan semangat moderasi beragama yang selama ini menjadi bagian dari mandat Pusbangkom MKMB. Moderasi beragama tidak cukup dipahami sebagai pengetahuan, tetapi perlu diterjemahkan dalam perilaku yang menghadirkan kemaslahatan di tengah Masyarakat,” paparnya.
“Itu dapat dilihat dari pegawai Pusbangkom MKMB yang tidak semuanya beragama islam tetapi semua berbaur ikut membersihkan masjid,” tambahnya.
Beliau mengungkapkan bahwa melalui aksi nyata ini, sangat sejalan dengan konsep moderasi beragama, khususnya dalam menyikapi esensi ajaran agama, mengikis sikap eksklusif dan menara gading.
Ia juga menegaskan, fungsi Pusbangkom tidak berhenti pada transfer pengetahuan melalui berbagai program pengembangan kompetensi. Pengetahuan dan nilai yang diperoleh perlu diwujudkan dalam tindakan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Peran dan fungsi Pusbangkom tidak selesai pada tataran transfer knowledge. Namun, hadir mewujudkannya melalui kepedulian nyata yang memberi dampak positif langsung bagi masyarakat,” tegasnya.
Karena itu, momentum peringatan kemerdekaan menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada bangsa dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Menjaga kebersihan rumah ibadah, membantu masyarakat, dan membangun hubungan baik dengan lingkungan sekitar merupakan bentuk sederhana dari semangat kebangsaan.
Musyarrafah menekankan semangat kemerdekaan juga tidak semestinya berhenti setelah berbagai atribut peringatan kemerdekaan diturunkan. Semangat tersebut harus terus hidup melalui konsistensi dalam bekerja dan melayani.
“Sesungguhnya semangat kemerdekaan tidak berhenti saat diturunkannya spanduk atau banner HUT RI ke-81. Semangat kemerdekaan selalu hidup dalam konsistensi,” tandasnya.
Konsistensi itu, menurutnya, diwujudkan melalui kerja nyata dan kerja yang berdampak dengan tetap menjunjung integritas, profesionalitas, dan keikhlasan dalam memberikan pelayanan terbaik.
Semangat kemerdekaan juga berarti merawat warisan teragung para pendiri bangsa, yakni persatuan, kesetaraan, dan kerja sama tanpa membeda-bedakan. Nilai tersebut perlu terus dirawat dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam pelaksanaan tugas sebagai aparatur negara.
“Moderasi juga harus dibumikan melalui aksi nyata. Kita dapat memulainya dari hal-hal sederhana karena sesuatu yang besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” imbuhnya.
Rangkaian kegiatan tersebut akhirnya menjadi refleksi bahwa kemerdekaan bukan semata-mata peristiwa sejarah, melainkan nilai yang terus dihidupkan melalui tindakan. Dari menjaga kesehatan, memperkuat kebersamaan, hingga membantu masyarakat, semangat kemerdekaan menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari.
“Bangkit bersama. Kemerdekaan dalam Tindakan kerja bersama, melayani dengan empati,” pungkas Musyarrafah.
Sementara itu, Ketua panitia HUT ke 81 RI Pusbangkom Kementerian Agama Ispawati Asri mengatakan bahwa kegiatan bersih-bersih rumah ibadah di lingkungan Pusbangkom merupakan salah satu bentuk nyata dalam membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar (community relations). “Kegiatan ini juga menjadi wujud kepedulian dan kebersamaan dengan lingkungan, sekaligus turut mendukung dan menyukseskan program Gerakan Bersih-bersih Masjid (GEBERMAS) 2026 secara nasional,” katanya./RS
